Senin, 28 September 2009

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT. TIFICO Tbk

PROFIL PERUSAHAAN TIFICO Tbk

PT. Tifico Tbk merupakan sebuah perusahaan kerja sama, yang didirikan pada tanggal 25 oktober 1973 sebagai perusahaan asing. Perusahaan go public pada bulan Juli 1976 dan 2 tahun kemudian perusahaan tersebut berhasil mendirikan pabriknya sendiri yang pertama. Pada tahun yang sama, perusahaan mampu memproduksi benang filamen dan serabut kapas sebesar 30 ton/hari untuk masing-masing produksi. Satu tahun kemudian pada tanggal 29 oktober 1977, Presiden RI, Bapak Suharto mendeklarasikan pembukaan pabrik tersebut.

Sejak tanggal 26 februari 1980, perusahaan ini menjadi sebuah produser Polyester Synthetic Fiber sebagai bahan mentah dari textile yang sudah di registrasi sebagai satu dari lima perusahaan yang menjual saham ke publik. Semua saham dari PT. TIFICO terdaftar di Jakarta Stock Exchange. Sejak tahun 1987, perusahaan memperluas proyeknya sebagai hasil TIFICO dan sekarang bisa memproduksi benang filamen sebesar 190 ton/hari dan serabut kapas sebesar 210 ton/hari. Dalam rangka untuk menaikkan kualitas dari bahan mentah, perusahaan menjaga pengembangan untuk memproduksi benang filamen dengan kualitas yang lebih tinggi.

Sejauh ini, perusahaan merasa dukungan dan tuntunan dari pemerintah telah memberikan efek utama ke perusahaan, khususnya pembangunan pabrik textille dan serat.

mengimplementasikan satu langkah ke depan dengan membuat kebijakan untuk menjaga posisi sebagai bidak dan perusahaan terdepan.


  • Management of the Company Board of Commissioners :

Mardjono Reksodiputro, Yoshinaga Karasawa, Risaldi Kasri

  • Board of Directors

Yoshio Fukuda, Osamu Makino, Akihiko Kaneko, Masaya Ito, Hiroyuki Osaka, Ricky Setiawan Nazir, Nafis Adwani.


ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

PERUSAHAAN TIFICO Tbk


  1. ASPEK LIKUIDITAS

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban- kewajibannya yang harus segera dipenuhi. Kewajiban yang harus segera dipenuhi tersebut adalah hutang jangka pendek. Oleh karena itu, rasio ini bisa digunakan untuk mengukur tingkat keamanan kreditor jangka pendek, serta mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila kewajiban jangka pendek ini segera ditagih. Ukuran rasio likuiditas ini terdiri atas 3 alat ukur yaitu pertama, current ratio dimana membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek; kedua, quick ratio yang membandingkan antara aktiva lancar setelah dikurangi persediaan dengan hutang lancar; dan yang terakhir adalah cash ratio yang membandingkan antara kas aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar.

Berdasarkan perhitungan yang kami lakukan terhadap Laporan Keuangan Perusahaan Tifico Tbk tahun 2004- 2008 untuk aspek likuiditas diperoleh hasil bahwa rasio lancar (current ratio) adalah 0,8177 (th.2004); 0,7605 (th. 2005); 0,5466 (th. 2006); 0,4798 (th. 2007); 0,3682 (th. 2008). Untuk perhitungan rasio cepat (quick ratio) diperoleh hasil 0,7029 (th. 2004); 0,6149 (th. 2005); 0,4498 (th. 2006); 0,3589 (th. 2007); 0,2791(th.2008). Dan untuk perhitungan rasio kas (cash ratio) diperoleh hasil 0,0393 (th. 2004); 0,0154 (th. 2005); 0,0230 (th. 2006); 0,0078 (th.2007); 0,0366 (th.2008).

Dari hasil yang disebutkan di atas kita dapat melihat bahwa rasio lancar (current ratio) dan quick ratio dari tahun 2004- 2008 mengalami penurunan terus menerus. Hal ini berarti menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang- hutangnya pun sangat kecil. Untuk rasio kas (cash ratio) tahun 2004- 2007 mengalami penurunan tetapi untuk tahun 2008 mengalami kenaikan lagi.


B. ASPEK LAVERAGE

Aspek leverage perusahaan berkaitan dengan keputusan pendanaan perusahaan dimana menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan yang dibelanjai dengan hutang. Ada beberapa rasio laverage yang bisa dimanfaatkan oleh perusahaan antara lain rasio hutang (debt ratio) dimana mengukur prosentase besarnya dana yang berasal dari hutang, rasio ekuitas (equity ratio) yang mengukur prosentase asset perusahaan yang akan dibiayai oleh ekuitas perusahaan (hak kekayaan), debt to Equity Ratio yang merupakan imbangan antara hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri.

Berdasarkan perhitungan yang kami lakukan terhadap Laporan Keuangan Perusahaan Tifico Tbk tahun 2004- 2008 untuk aspek laverage ini diperoleh hasil bahwa rasio hutang (debt ratio) adalah 74,13% (thn 2004), 79,14% (thn. 2005), 96,25% (thn. 2006), 110,38% (thn. 2007), 127,82% (thn. 2008). Ratio ekuitas adalah 25,88% (thn. 2004), 20,86% (thn 2005), 3,75% (thn 2006), 10,38% (thn 2007), 27,82% (thn 2008). Dan Debt to Equity Ratio adalah 286,49% (thn. 2004), 379,37% (thn. 2005), 2.569,40% (thn. 2006), 1.063,31% (thn. 2007), 459,44% (thn. 2008).

Jadi, dengan aspek ini kita dapat melihat bahwa rata-rata rasio sangat besar sehingga semakin besar pula jumlah hutang perusahaan dan semakin besar pula resiko bisnis yang di hadapi.

C. ASPEK EFISIENSI

Aspek efisiensi mengukur seberapa besar efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya. Rasio ini dinyatakan sebagai perbandingan antara penjualan dengan berbagai elemen aktiva. Pengukuran aspek efiiensi dpat dilakukan dengan beberapa pengukuran. Pertama, average collection period (periode penagihan rata-rata) yang menandakan seberapa cepat perusahaan menagih kreditnya yang diukur oleh rata-rata jumlah dari penagihan piutang dagang. Berdasarkan perhitungan dari laporan keuangan diperoleh hasil 117,8859 ( tahun 2004), 137,3382 ( tahun 2005), 141,2499 ( tahun 2006 ), 91,6075 ( tahun 2007 ), 66,4030 ( tahun 2008 ). Ini menunjukkan bahwa waktu penagihannya semakin tidak stabil karena terjadi kenaikan dan penurunan yang cukup tajam.

Kedua, perputaran piutang usaha (account receivable turnover) menunjukan seberapa cepat perusahaan menagih kreditnya yang diukur oleh lamanya waktu piutang usaha ditagih. Dilihat dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa penagihan paling lambat adalah di tahun 2005

Ketiga, perputaran total aktiva (total assets turnover) yang menunjukan seberapa efisien perusahaan menggunakan aktivanya untuk menghasilkan penjualan.

Keempat, perputaran persediaan (inventory turnover) yang menandakan likuiditas relatif inventori , yang diukur oleh berapa kali penggantian persediaan perusahaan selama tahun tersebut. Kelima, perputaran aktiva tetap (fixed assets turnover) yang merupakan perbandingan antara penjualan dengan total aktiva tetap yang dimiliki perusahaan dan digunakan untuk mengukur efektivitas penggunaan aktiva tetap untuk mendapatkan penghasilan.

D. ASPEK PROFITABILITAS

Aspek ini mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan. Rasio ini dapat diukur dengan beberapa indikator.

Berdasarkan perhitungan pada lampiran, profitabilitas perusahaan ini sangat rendah karena perusahaan ini tiap tahunnya mengalami kerugian.

E. ANALISIS DUPONT

Analisis dupont merupakan suatu metode yang digunakan untuk menganalisis profitabilitas perusahaan dan tingkat pengembalian ekuitas. Pada analisis dupont pertama kali kita harus mengurangi antara penjualan dengan total biaya lalu kita akan mendapatkan laba bersih. Setelah itu laba bersih itu kita bagi lagi dengan penjualan dan kita akan mendapatkan marjin laba bersih. Laba bersih itu dikalikan lagi dengan perputaran total aktiva yang didapat dengan cara membagi total aktiva dengan penjualan. Setelah mengalikan marjin laba bersih dengan perputaran total aktiva maka kita akan mendapat pengembalian atas aktiva. Untuk mendapatkan pengembalian atas ekuitas kita perlu membagi pengembalian atas aktiva dengan satu di kurangi total hutang yang di bagi dengan total aktiva.

Dari rumus di atas dapat kita peroleh pengembalian atas ekuitas tiap tahun sebagai berikut: 3,755(thn. 2004), 3,4266(thn. 2005), 0,0374(thn. 2006), 10,4499(thn 2007), 5,229(thn. 2008). Dapat kita lihat di atas bahwa tingkat pengembalian atas ekuitas perusahaan ini sangat kecil.


KESIMPULAN HASIL ANALISIS KEUANGAN

Berdasarkan perhitungan dari keempat yaitu aspek likuiditas, leverage, efisiensi, dan profitabilitas,kami dapat menyimpulkan bahwa perusahaan Tifico, Tbk tiap tahunnya mengalami kerugian di sebabkan karena:

Pertama, perusahaan tidak mampu membayar kewajiban-kewajiban yang harus di penuhi. Hal ini membuat perusahaan tersebut memiliki banyak hutang yang belum terbayar.

Kedua, perusahaan ini terlalu banyak berbelanja dengan hutang atau pinjaman sehingga beban kerugian yang di tanggung perusahaan lebih besar

Ketiga, efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya sangat rendah. Hal ini dapat dilihat pada perputaran dana, persediaan, aktiva, dan aktiva tetap.

Keempat, perusahaan sama sekali tidak bisa menghasilkan keuntungan sehingga segala beban dan dan hutang-hutang yang masih menumpuk masih belum dapat terbayar.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar